Dalam berbagai penelusuran lapangan di sepanjang lereng terjal, alur sungai hulu, dan tapak-tapak bekas terjangan banjir bandang, kami menyaksikan secara langsung bagaimana kekuatan air yang semula memberi kehidupan dapat bertransformasi menjadi gelombang kejut yang meruntuhkan jembatan, menghanyutkan rumah, memutus mata pencaharian, dan dalam hitungan menit merenggut masa depan serta orang-orang terkasih dari pelukan keluarganya. Pemandangan puing-puing bangunan yang tertimbun material lumpur dan batuan, tatapan getir warga di pengungsian, serta sempitnya waktu peringatan dini (warning time) di daerah pegunungan selalu menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar: apa yang dapat ilmu rekayasa persembahkan agar bencana serupa tidak terus berulang menelan korban jiwa? Duka dan keprihatinan itulah yang menjadi denyut nadi utama penulisan buku ini. Rasa lelah di tengah malam, kerumitan kalibrasi data hidro-geomorfologi, serta tantangan dalam mengintegrasikan metode Flash Flood Potential Index (FFPI), simulasi hidrologi HECHMS, dan pemodelan hidrodinamika 2-dimensi HEC-RAS serasa terbayar lunas oleh tekad sederhana: kami ingin ilmu ini menjadi
lentera penjaga keselamatan. Buku ini ditulis dengan niat tulus agar sains tidak sekadar bersemayam di menara gading atau lemari perpustakaan, melainkan hadir sebagai instrumen penyelamat kehidupan manusia di bentang alam yang nyata
Post a Comment